Riwayat penemuan ramuan tradisional untuk demam berdarah ini terjadi pada
tahun 1978 ketika anak kami dua orang secara beruntun menderita sakit demam
menggigil. keesokannya,sekujur badan timbul bintik-bintik merah.
Pada awal gejala (hari pertama), anak kami yang nomor 4 (bungsu) menderita
demam menggigil selalu menangis, tak mau makan dan tak mau turun dari
gendongan. Waktu itu, usianya kira-kira 4 tahun.
Melihat keadaannya,lalu kami bawa ke salah seorang dokter, yang kemudian
di-injeksi dan diberi resep dengan pesan, bila sampai esok belum ada
perubahan, agar kontrol lagi.
Dugaan dokter benar. esoknya, kondisinya tidak ada perubahan dan terpaksa
saya bawa kembali untuk diijeksi yang kedua kalinya serta pesan agar obatnya
tetap diminum.
Tetapi, apa kata, begitu pulang dari tempat praktek dokter, anak kami
muntah-muntah, yang kemudian diiringi dengan timbulnya bintik-bintik merah
sekujur tubuhnya. Waktu itu, kami tidak tahu kalau bintik merah itu adalah
tanda penyakit demam berdarah. seorang teman yang melihat kondisi anak kami,
menganjurkan agar segera dibawa kerumah sakit. Demam berdarah, vonisnya.
Mendengar itu, istri saya yang sedang menggendongnya ikut jadi panik dan
marah karena saya hanya menanggapi dengan tenang seakan tak acuh. Untuk
meredakan kemarahannya, saya lalu berkata:"Bu, kita'kan baru pulang dari
dokter dan ternyata obat modern tidak bereaksi. Jadi harus kita tanggulangi
dengan ramuan tradisional,"ucap saya.
Saya lalu mengamati semua gejala yang diderita untuk menentukan diagnosa
penyakitnya. Saya lalu menyimpulkan bahwa anak kami menderita demam yang
menggigil, tidak mau makan, muntah-muntah, dan sekujur tubuh timbul bintik
merah. Pasti ada keracunan di dalam darahnya.
Saya lalu mengambil buku Cabe-Puyang dan buku" Wenken en raad gevingen
betraffende het gebruik van indische planten, vruchten enz", guna mencari
kami ramu. Yang kami temukan antara lain:
1. Daun Pepaya (Carica Papaya Linn)
untuk menanggulangi racun pada darah sekaligus klorofilnya berguna untuk
mengembalikan pembentukan butir-butir darah merah yang rusak, menanggulangi
demam serta menggugah nafsu makan.
2. Pohon Meniran (Phyllanthus Niruri Linn)
berguna untuk membersihkan darah, membantu pembentukan darah merah
(klorofilnya), dan juga menurunkan panas/demam.
3. Kunyit/Kunir (Curcuma domestica val)
berguna untuk menetralisir lambung, menghentikan muntah; mencegah infeksi.
4. Temu Ireng/Hitam (Curcuma Aeruginosa Roxb)
berguna untuk meningkatkan nafsu makan.
5. Garam dapur/masak,
disamping untuk mengurangi rasa pahit dan berguna pula untuk membantu
pembentukan butir-butir darah merah.
Ramuan itu setelah kami cuci bersih, terus ditumbuk halus. Kemudian diberi
air masak (dingin) satu cangkir. Karena anak kami masih kecil, terpaksa
harus dicekoki, yaitu ramuan yang dituangi air itu terus dibungkus kain
bersih dan diperas dalam mulut anak, dengan menyumbat hidungnya sebentar.
Hasilnya di luar dugaan kami. Kurang lebih 15 menit kemudian, panas badannya
turun dan tidak menggiggil lagi serta dapat tidur dengan pulas. Dua jam
kemudian, dia bangun dan minta makan. Seusai makan, sudah tampak sehat dan
dapat bermain seperti biasa kembali tanpa ada keluhan lagi. Tetapi, karena
kami belumm yakin, selama seminggu dia kami beri minum jamu setiap hari
sekali.
Setelah anak kami yang nomor 4 sembuh, malam harinya anak kami yang nomor 3
menderita demam menggigil seperti yang pernah diderita adiknya. Esoknya,
kami bawa kedokter dan kembali peristiwa yang terjadi pada adiknya, dia
alami juga. Pada hari kedua, timbul bintik-bintik merah. Tanpa pikit panjang
lagi, dia kami minumkan ramuan sama seperti yang diminum adiknya. ternyata
reaksinya sama, 15 menit kemudian semua gejala menurun, terus tidur pulas,
antara 2 jam kemudian bangun, terus minta makan, dan sehabis makan pergi
main dengan temannya sampai sore hari.
Berdasarkan pengalaman ini, kami yakin bahwa ramuan kami benar-benar dapat
dimanfaatkan untuk menanggulangi demam berdarah. Seperti kita ketahui,
sampai saat ini penyakit mengerikan ini belum ada obatnya.
Keyakinan kami makin tebal ketika salah seorang redaksi majalah Desaku
mencoba ramuan itu untuk mengobati anaknya. Begitu pula, putra mantan Kepala
Kantor BKKBN Kab. Tuban, yang sembuh dalam waktu singkat.
Nah, inilah pengalaman kami dan sampai tahun 1988 ini entah sudah berapa
banyak anak yang tertolong oleh ramuan ini, karena kami sendiri lupa
menghitungnya, belum lagi yang disebarluaskan oleh meraka yang anaknya sudah sembuh. Semoga bermanfaat bagi Anda.
Monday
Mengobati Demam Berdarah
Riwayat penemuan ramuan tradisional untuk demam berdarah ini terjadi pada
tahun 1978 ketika anak kami dua orang secara beruntun menderita sakit demam
menggigil. keesokannya,sekujur badan timbul bintik-bintik merah.
Pada awal gejala (hari pertama), anak kami yang nomor 4 (bungsu) menderita
demam menggigil selalu menangis, tak mau makan dan tak mau turun dari
gendongan. Waktu itu, usianya kira-kira 4 tahun.
Melihat keadaannya,lalu kami bawa ke salah seorang dokter, yang kemudian
di-injeksi dan diberi resep dengan pesan, bila sampai esok belum ada
perubahan, agar kontrol lagi.
Dugaan dokter benar. esoknya, kondisinya tidak ada perubahan dan terpaksa
saya bawa kembali untuk diijeksi yang kedua kalinya serta pesan agar obatnya
tetap diminum.
Tetapi, apa kata, begitu pulang dari tempat praktek dokter, anak kami
muntah-muntah, yang kemudian diiringi dengan timbulnya bintik-bintik merah
sekujur tubuhnya. Waktu itu, kami tidak tahu kalau bintik merah itu adalah
tanda penyakit demam berdarah. seorang teman yang melihat kondisi anak kami,
menganjurkan agar segera dibawa kerumah sakit. Demam berdarah, vonisnya.
Mendengar itu, istri saya yang sedang menggendongnya ikut jadi panik dan
marah karena saya hanya menanggapi dengan tenang seakan tak acuh. Untuk
meredakan kemarahannya, saya lalu berkata:"Bu, kita'kan baru pulang dari
dokter dan ternyata obat modern tidak bereaksi. Jadi harus kita tanggulangi
dengan ramuan tradisional,"ucap saya.
Saya lalu mengamati semua gejala yang diderita untuk menentukan diagnosa
penyakitnya. Saya lalu menyimpulkan bahwa anak kami menderita demam yang
menggigil, tidak mau makan, muntah-muntah, dan sekujur tubuh timbul bintik
merah. Pasti ada keracunan di dalam darahnya.
Saya lalu mengambil buku Cabe-Puyang dan buku" Wenken en raad gevingen
betraffende het gebruik van indische planten, vruchten enz", guna mencari
kami ramu. Yang kami temukan antara lain:
1. Daun Pepaya (Carica Papaya Linn)
untuk menanggulangi racun pada darah sekaligus klorofilnya berguna untuk
mengembalikan pembentukan butir-butir darah merah yang rusak, menanggulangi
demam serta menggugah nafsu makan.
2. Pohon Meniran (Phyllanthus Niruri Linn)
berguna untuk membersihkan darah, membantu pembentukan darah merah
(klorofilnya), dan juga menurunkan panas/demam.
3. Kunyit/Kunir (Curcuma domestica val)
berguna untuk menetralisir lambung, menghentikan muntah; mencegah infeksi.
4. Temu Ireng/Hitam (Curcuma Aeruginosa Roxb)
berguna untuk meningkatkan nafsu makan.
5. Garam dapur/masak,
disamping untuk mengurangi rasa pahit dan berguna pula untuk membantu
pembentukan butir-butir darah merah.
Ramuan itu setelah kami cuci bersih, terus ditumbuk halus. Kemudian diberi
air masak (dingin) satu cangkir. Karena anak kami masih kecil, terpaksa
harus dicekoki, yaitu ramuan yang dituangi air itu terus dibungkus kain
bersih dan diperas dalam mulut anak, dengan menyumbat hidungnya sebentar.
Hasilnya di luar dugaan kami. Kurang lebih 15 menit kemudian, panas badannya
turun dan tidak menggiggil lagi serta dapat tidur dengan pulas. Dua jam
kemudian, dia bangun dan minta makan. Seusai makan, sudah tampak sehat dan
dapat bermain seperti biasa kembali tanpa ada keluhan lagi. Tetapi, karena
kami belumm yakin, selama seminggu dia kami beri minum jamu setiap hari
sekali.
Setelah anak kami yang nomor 4 sembuh, malam harinya anak kami yang nomor 3
menderita demam menggigil seperti yang pernah diderita adiknya. Esoknya,
kami bawa kedokter dan kembali peristiwa yang terjadi pada adiknya, dia
alami juga. Pada hari kedua, timbul bintik-bintik merah. Tanpa pikit panjang
lagi, dia kami minumkan ramuan sama seperti yang diminum adiknya. ternyata
reaksinya sama, 15 menit kemudian semua gejala menurun, terus tidur pulas,
antara 2 jam kemudian bangun, terus minta makan, dan sehabis makan pergi
main dengan temannya sampai sore hari.
Berdasarkan pengalaman ini, kami yakin bahwa ramuan kami benar-benar dapat
dimanfaatkan untuk menanggulangi demam berdarah. Seperti kita ketahui,
sampai saat ini penyakit mengerikan ini belum ada obatnya.
Keyakinan kami makin tebal ketika salah seorang redaksi majalah Desaku
mencoba ramuan itu untuk mengobati anaknya. Begitu pula, putra mantan Kepala
Kantor BKKBN Kab. Tuban, yang sembuh dalam waktu singkat.
Nah, inilah pengalaman kami dan sampai tahun 1988 ini entah sudah berapa
banyak anak yang tertolong oleh ramuan ini, karena kami sendiri lupa
menghitungnya, belum lagi yang disebarluaskan oleh meraka yang anaknya sudah sembuh. Semoga bermanfaat bagi Anda.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)




No comments:
Post a Comment